China di Laut Timur Asia, Jepang Waspada Insiden Tak Terduga

Aktivitas militer China yang semakin intens di wilayah sengketa Laut Timur Asia meningkatkan risiko terjadinya insiden tak disengaja.

China di Laut Timur Asia, Jepang Waspada Insiden Tak Terduga

Latihan udara kapal induk China di sekitar Okinawa nyaris memicu krisis serius dengan Jepang, mencerminkan meningkatnya ketegangan bilateral akibat manuver militer Beijing yang berisiko tinggi dan berpotensi mengganggu stabilitas Asia Timur. Dibawah ini kamu bisa melihat berbagai informasi berita menarik lainnya tentang seputaran .

tebak skor hadiah pulsa  

Risiko Salah Hitung di Balik Latihan Militer China

Pendiri Parley Policy Initiative, Michael MacArthur Bosack, menilai bahwa latihan militer China yang melibatkan kapal induk di perairan lepas Okinawa pada dasarnya tidak dimaksudkan untuk memicu krisis terbuka dengan Jepang.

Bosack menekankan bahwa manuver yang dilakukan secara agresif. Minim komunikasi, dan berlangsung dalam jarak dekat dengan aset militer Jepang meningkatkan risiko salah perhitungan (miscalculation). Dalam kondisi seperti ini, insiden kecil, kesalahan teknis, atau keputusan cepat oleh komandan di lapangan dapat berkembang menjadi krisis diplomatik atau bahkan konflik militer yang lebih luas.

Pandangan Bosack juga menggarisbawahi masalah yang lebih besar di kawasan Asia Timur. Yakni rapuhnya kepercayaan dan minimnya saluran komunikasi militer yang efektif antara negara-negara besar. Tanpa aturan main yang jelas dan komitmen untuk menahan diri. Aktivitas militer rutin berpotensi menjadi pemicu ketegangan yang tidak diinginkan.

Pernyataan PM Jepang soal Taiwan Picu Eskalasi Bertahap China

Ketegangan antara Beijing dan Tokyo meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyinggung potensi dampak blokade maritim terhadap Taiwan bagi keamanan Jepang

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari China, yang menilai sikap Tokyo sebagai bentuk campur tangan dalam isu sensitif yang menyangkut kedaulatan dan kepentingan strategis Beijing. Isu Taiwan dipandang sebagai garis merah oleh pemerintah China, sehingga setiap pernyataan dari pihak luar, termasuk Jepang. Kerap direspons dengan sikap tegas dan konfrontatif.

Menurut Michael MacArthur Bosack, respons Beijing mengikuti pola eskalasi bertahap, dimulai dari retorika tajam dan tuntutan agar pernyataan tersebut dicabut. Kemudian berkembang ke langkah-langkah diplomatik serta tekanan ekonomi sebagai bentuk balasan.

Baca Juga: Spesies Manusia Baru Ditemukan Di China, Tengkorak Lebih Besar

China di Sekitar Jepang Nyaris Picu Insiden Bersenjata

China di Sekitar Jepang Nyaris Picu Insiden Bersenjata

Ketegangan China–Jepang semakin meningkat seiring intensifikasi aktivitas militer Beijing di sekitar wilayah Jepang. China melakukan berbagai manuver berisiko, mulai dari penerbangan pesawat tanpa awak di dekat Pulau Yonaguni, pelayaran kapal perang melalui selat-selat strategis Jepang. Hingga penerbangan gabungan pesawat pengebom bersama Rusia yang mengitari Pulau Honshu dan Kyushu.

Situasi mencapai titik paling berbahaya ketika jet tempur China dari kapal induk Liaoning memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Jepang. Memaksa Angkatan Udara Bela Diri Jepang melakukan pencegatan sesuai prosedur.

Menurut Michael MacArthur Bosack, insiden menjadi sangat berisiko ketika pesawat tempur China dilaporkan mengarahkan radar kendali tembakan ke jet Jepang. Sebuah tindakan yang umumnya menjadi tahap awal sebelum penggunaan senjata.

China Tingkatkan Risiko Krisis Regional

Michael MacArthur Bosack menilai insiden latihan udara yang melibatkan kapal induk Liaoning bukanlah kejadian terisolasi. Melainkan cerminan dari pola perilaku militer China yang semakin dinormalisasi dan bersifat ceroboh serta intimidatif.

Menurutnya, peningkatan frekuensi insiden, ditambah dengan kemampuan militer China yang terus berkembang, secara signifikan memperbesar risiko terjadinya kesalahan fatal yang dapat memicu krisis di masa depan.

Bosack memperingatkan bahwa tanpa perubahan kebijakan dan perilaku, risiko krisis akan semakin besar. Ia menegaskan pencegahan hanya efektif jika Jepang dan mitranya konsisten menegakkan hukum internasional serta menolak tindakan koersif. Ikuti selalu informasi berita menarik dari kami setiap harinya yang terupdate dan terpercaya, hanya di CRAZY CHINA.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Pertama dari SINDOnews.com
  2. Gambar Kedua dari CNBC Indonesia

Similar Posts