China Tingkatkan Kepung Taiwan, Kerahkan Roket Dan Pembom
Ketegangan geopolitik di Selat Taiwan kembali memanas setelah China melancarkan latihan militer berskala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Manuver ini bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan simulasi blokade penuh terhadap Taiwan, negara kepulauan yang dianggap Beijing sebagai provinsi pemberontak. Dengan pengerahan roket, kapal serbu amfibi canggih, pesawat pembom strategis, dan armada kapal perang, China secara terang-terangan menunjukkan kesiapannya untuk mengambil alih Taiwan, bahkan jika harus dengan kekuatan militer.
Dunia kini menanti dengan napas tertahan, mengamati setiap gerakan yang dapat mengubah peta geopolitik global. Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya tentang wisata dan berita seputaran CRAZY CHINA.
Eskalasi Di Selat Taiwan
China telah memulai hari kedua latihan perang terbesarnya, secara efektif mengepung Taiwan. Manuver ini melibatkan penembakan roket ke arah pulau tersebut dan pengerahan kapal serbu amfibi baru, pesawat pembom, serta kapal perang. Langkah ini menjadi simulasi blokade yang dirancang untuk mempersiapkan skenario pengepungan total terhadap Taiwan, menunjukkan keseriusan Beijing.
Komando Teater Timur China melaporkan bahwa penembakan langsung berlangsung hingga pukul 18.00 waktu setempat. Aktivitas militer intensif ini mencakup lima lokasi laut dan wilayah udara di sekitar Taiwan, serta lepas pantai China. Latihan ini menandai eskalasi signifikan dalam tekanan militer China terhadap Taipei, menyusul peningkatan ketegangan di kawasan.
Latihan yang diberi nama “Misi Keadilan 2025” ini dimulai sebelas hari setelah Amerika Serikat mengumumkan paket penjualan senjata senilai 11,1 miliar dolar AS kepada Taiwan. Cakupan wilayah dan kedekatannya dengan pulau tersebut menjadikan latihan ini yang paling ekstensif yang pernah dilakukan Beijing.
Demonstrasi Kekuatan Maritim Dan Udara
Dalam latihan tersebut, unit angkatan laut dan udara China melakukan simulasi serangan terhadap target maritim dan udara. Mereka juga melatih operasi anti-kapal selam di utara dan selatan pulau yang diperintah secara demokratis itu. Kegiatan ini menunjukkan kemampuan China untuk melumpuhkan pertahanan Taiwan dari berbagai sisi, baik di atas maupun di bawah permukaan laut.
Pengerahan kapal serbu amfibi baru dan pesawat pembom mengindikasikan kemampuan China untuk melakukan pendaratan amfibi skala besar serta serangan udara jarak jauh. Hal ini memperlihatkan bahwa tujuan latihan bukan hanya blokade, tetapi juga potensi invasi. Kekuatan militer Beijing semakin modern dan mumpuni untuk operasi kompleks.
Administrasi Keselamatan Maritim China sebelumnya telah menambahkan dua zona penembakan langsung tambahan, memperluas area latihan di sekitar Taiwan. Penambahan zona ini meningkatkan tekanan militer terhadap Taipei, yang terus memantau setiap pergerakan Beijing dengan cermat.
Baca Juga: Kontroversi Pembongkaran Monumen China di Kawasan Terusan Panama
Respons Taiwan Dan Implikasi Regional
Seorang pejabat keamanan senior Taiwan mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya terus memantau perkembangan latihan tersebut. Taipei mengamati apakah latihan perang besar keenam sejak 2022 ini juga akan mencakup penembakan rudal langsung ke Taiwan, seperti yang terjadi setelah kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi. Taiwan tetap waspada terhadap setiap potensi ancaman.
China tampaknya menggunakan latihan ini untuk melatih serangan terhadap target berbasis darat, termasuk sistem roket HIMARS buatan AS yang dimiliki Taiwan. Sistem artileri bergerak ini memiliki jangkauan sekitar 300 kilometer dan mampu menghantam target pesisir di selatan China, menjadikannya fokus simulasi penting bagi Beijing.
Latihan ini memiliki implikasi serius bagi stabilitas regional dan global. Tindakan agresif China dapat memicu respons dari Amerika Serikat dan sekutunya, meningkatkan risiko konflik yang lebih besar. Komunitas internasional menyerukan deeskalasi dan penyelesaian damai atas masalah Selat Taiwan.
Peningkatan Tekanan Militer Dan Strategi Blokade
Latihan “Misi Keadilan 2025” merupakan puncak dari serangkaian tindakan militer China yang bertujuan menekan Taiwan. Pengerahan roket, pembom, dan kapal perang secara simultan menunjukkan strategi blokade komprehensif. Tujuannya adalah untuk mengisolasi Taiwan, memutus jalur logistik, dan mengikis kemampuan pertahanannya.
Simulasi serangan terhadap target maritim dan udara, serta operasi anti-kapal selam, menegaskan upaya China untuk mendominasi lingkungan operasional di sekitar Taiwan. Dengan menguasai laut dan udara, Beijing dapat secara efektif mencegah intervensi pihak ketiga dan mengamankan keunggulan taktisnya.
Pesan yang disampaikan China melalui latihan ini sangat jelas: Beijing memiliki kemauan dan kapasitas untuk menggunakan kekuatan militer demi mengklaim Taiwan. Ini adalah peringatan keras bagi Taiwan dan komunitas internasional. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dalam drama geopolitik yang berpusar di Selat Taiwan.
Simak dan ikuti terus informasi menarik lainnya tentang berita-berita terbaru China hanya di CRAZY CHINA.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari cnbcindonesia.com
- Gambar Kedua dari cnbcindonesia.com