Masa Depan China di Ujung Tanduk 3,2 Juta Penduduk Hilang di 2026, Krisis Seks Kian Mencekam!

China menghadapi krisis demografi serius, dengan proyeksi 3,2 juta penduduk hilang pada 2026, ketimpangan gender mengkhawatirkan.

Masa Depan China di Ujung Tanduk 3,2 Juta Penduduk Hilang di 2026

China, raksasa ekonomi global, menghadapi krisis demografi yang parah. PBB memproyeksikan pada 2026 populasi Negeri Tirai Bambu menyusut 3,2 juta jiwa. Penurunan ini mencerminkan krisis kelahiran, ketimpangan gender, dan dampak serius terhadap struktur sosial serta ekonomi.

Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya tentang wisata dan berita seputaran .

tebak skor hadiah pulsa  

Menjelajahi Angka Penurunan Populasi China

PBB memproyeksikan penurunan jumlah penduduk China yang signifikan, mencapai sekitar 3,2 juta orang pada tahun 2026. Angka ini setara dengan hilangnya populasi satu negara bagian di Amerika Serikat setiap tahun. Prediksi ini menandai titik balik penting bagi negara yang selama puluhan tahun dikenal dengan pertumbuhan populasinya yang masif.

Penurunan populasi ini bukan hanya fenomena sesaat, melainkan awal dari tren jangka panjang yang mengkhawatirkan. PBB memperkirakan puncak penurunan akan terjadi sekitar awal tahun 2060-an, di mana pada tahun 2062, China bisa kehilangan hampir 14 juta penduduk dalam satu tahun. Ini berarti rata-rata sekitar 1,16 juta orang per bulan pada tahun tersebut.

Dampak dari tren ini akan semakin terasa dalam beberapa dekade mendatang. Pada tahun 2030, populasi China diperkirakan akan berkurang 17,9 juta orang dibandingkan tahun 2025. Bahkan, proyeksi median PBB menunjukkan bahwa total penyusutan populasi pada tahun 2100 bisa mencapai lebih dari 760 juta jiwa dibandingkan tahun 2025.

Kebijakan Satu Anak Dan Konsekuensi Jangka Panjang

Selama beberapa dekade, pertumbuhan penduduk menjadi motor utama ekonomi China. Bahkan hingga awal tahun 2000-an, negara ini masih menambah jutaan penduduk setiap tahun, menciptakan “bonus demografi” yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang agresif. Ini adalah periode emas bagi perkembangan industri dan pembangunan infrastruktur.

Namun, kebijakan satu anak yang diterapkan sejak tahun 1979 telah meninggalkan dampak jangka panjang yang kini mulai terasa. Meskipun pemerintah telah melonggarkan aturan, mulai dari kebijakan dua anak pada tahun 2015, tiga anak pada tahun 2021, hingga penghapusan seluruh batasan kelahiran, angka kelahiran tetap gagal untuk pulih.

Perubahan kebijakan ini datang setelah bertahun-tahun angka fertilitas terus menurun, diiringi oleh meningkatnya biaya perumahan dan pendidikan, serta populasi angkatan kerja yang menua. Kombinasi faktor-faktor ini menyebabkan China kini menghadapi penurunan populasi yang dramatis, dengan skala yang sulit dibayangkan sebelumnya.

Baca Juga: China Tarik Pasukan Usai Latihan Militer Besar, Taiwan Tetap Siaga

Ancaman Serius Terhadap Perekonomian Nasional

 Ancaman Serius Terhadap Perekonomian Nasional

Populasi yang menua dan menyusut menimbulkan ancaman serius bagi perekonomian China. Semakin sedikit tenaga kerja yang produktif harus menopang semakin banyak pensiunan. Ini akan memberikan tekanan besar pada sistem pensiun dan kesehatan, yang berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan finansial dan sosial.

Selain itu, penurunan populasi juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Ketersediaan tenaga kerja yang berkurang akan mengurangi kapasitas produksi dan inovasi jangka panjang. Kemampuan China untuk mempertahankan statusnya sebagai “pabrik dunia” dan pusat inovasi global bisa tergerus jika tren ini berlanjut.

Para pemimpin China telah berupaya keras untuk mendorong angka kelahiran kembali. Berbagai insentif finansial dan program dukungan keluarga diluncurkan, kadang bersifat simbolis, kadang dengan nilai yang signifikan. Namun, sejauh ini, upaya-upaya ini belum menunjukkan hasil yang konsisten dan berkelanjutan.

Upaya Pemerintah Dan Tantangan ke Depan

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak provinsi dan kota di China meluncurkan subsidi penitipan anak serta insentif tunai bagi keluarga. Pemerintah pusat di Beijing juga mulai bergerak menuju program subsidi penitipan anak berskala nasional, menandakan keseriusan dalam mengatasi masalah ini.

Salah satu perubahan kebijakan terbaru yang menarik perhatian adalah pencabutan pembebasan pajak yang telah lama berlaku untuk alat kontrasepsi. Langkah ini dilaporkan sebagai bagian dari dorongan pro-kelahiran oleh Beijing, dengan harapan dapat mendorong pasangan untuk memiliki lebih banyak anak.

Para peneliti menilai kombinasi kebijakan nasional dan daerah di China masih belum merata dan kesulitan meningkatkan angka kelahiran berkelanjutan. Proyeksi demografi bukan takdir pasti, namun tren populasi China jelas. Negara yang dulu menambah jutaan penduduk tiap tahun kini mengalami pengurangan dengan laju semakin cepat.

Simak dan ikuti terus informasi menarik lainnya tentang berita terkini, wisata dan teknologi China hanya di CRAZY CHINA.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari cnbcindonesia.com
  • Gambar Kedua dari cnbcindonesia.com

Similar Posts