Presiden Lee Jae-myung Akui Teknologi Korsel Tertinggal Dari China
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung secara terbuka mengakui bahwa kemampuan teknologi negaranya saat ini tertinggal dibandingkan dengan China.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum kebijakan strategis yang membahas arah pembangunan industri dan inovasi nasional.
Pengakuan ini menjadi sorotan luas karena datang dari pemimpin negara yang selama ini dikenal memiliki ambisi besar memperkuat posisi Korea Selatan sebagai kekuatan teknologi global.
Lee Jae-myung menilai kemajuan pesat China di berbagai sektor strategis telah mengubah peta persaingan teknologi dunia. Ia menyebut bahwa Korea Selatan tidak bisa lagi hanya mengandalkan reputasi masa lalu sebagai raksasa semikonduktor dan elektronik konsumen.
Tantangan baru menuntut perubahan pendekatan, termasuk reformasi kebijakan riset, pendidikan, dan industri.
Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya tentang seputaran CRAZY CHINA.
China Melaju Cepat Dalam Inovasi
Kemajuan teknologi China dalam satu dekade terakhir dinilai sangat signifikan. Investasi besar-besaran pemerintah China dalam riset dan pengembangan telah menghasilkan lompatan besar di berbagai sektor strategis.
Mulai dari kecerdasan buatan, kendaraan listrik, teknologi baterai, hingga jaringan komunikasi generasi terbaru, China kini tidak hanya menjadi pasar besar, tetapi juga pusat inovasi global.
Lee Jae-myung menyoroti bahwa kecepatan China dalam mengintegrasikan riset dengan industri menjadi salah satu faktor utama ketertinggalan Korea Selatan.
China mampu menghubungkan universitas, lembaga penelitian, dan sektor swasta dalam satu ekosistem inovasi yang solid. Hal ini membuat proses komersialisasi teknologi berjalan lebih cepat dan efisien. Sementara itu, Korea Selatan dinilai masih menghadapi tantangan struktural dalam mempercepat alih teknologi dari laboratorium ke pasar.
Tantangan Internal yang Dihadapi Korea Selatan
Selain tekanan eksternal dari China, Lee Jae-myung juga menyoroti persoalan internal yang menghambat daya saing teknologi Korea Selatan.
Ketergantungan pada beberapa konglomerasi besar dinilai membuat ekosistem inovasi kurang inklusif. Perusahaan rintisan dan usaha kecil berbasis teknologi sering kali kesulitan berkembang karena keterbatasan akses pendanaan dan pasar.
Masalah demografi juga menjadi perhatian serius. Penurunan angka kelahiran dan penuaan penduduk berpotensi mengurangi ketersediaan tenaga kerja terampil di masa depan.
Dalam konteks teknologi tinggi, sumber daya manusia yang kreatif dan adaptif menjadi kunci utama. Lee Jae-myung menegaskan bahwa tanpa reformasi pendidikan dan kebijakan tenaga kerja yang visioner, Korea Selatan akan semakin tertinggal dalam persaingan teknologi global.
Baca Juga: Korea Selatan Tertinggal Dari China di Bidang Teknologi, Kata Presiden Lee
Strategi Pemerintah Menghadapi Ketertinggalan Teknologi
Menghadapi realitas tersebut, Lee Jae-myung menekankan pentingnya perubahan strategi nasional di bidang teknologi.
Pemerintah didorong untuk meningkatkan investasi jangka panjang dalam riset dasar, bukan hanya fokus pada pengembangan produk jangka pendek. Pendekatan ini dinilai penting untuk menciptakan terobosan teknologi yang mampu bersaing dengan inovasi China dan negara maju lainnya.
Selain itu, kolaborasi internasional juga dianggap krusial. Korea Selatan perlu memperluas kerja sama teknologi dengan negara-negara yang memiliki visi serupa dalam pengembangan inovasi berkelanjutan.
Di saat yang sama, pemerintah harus menciptakan iklim regulasi yang mendukung eksperimen teknologi, termasuk memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan rintisan untuk tumbuh dan bersaing secara global.