Alarm Merah Ekonomi China! Warga Ogah Punya Anak, Ancaman Krisis Demografi Mengintai!
China menghadapi krisis demografi serius, karena angka kelahiran merosot tajam, warga enggan punya anak, ekonomi terancam.
China, raksasa ekonomi dunia, menghadapi ancaman serius dari krisis demografi yang makin dalam. Angka kelahiran terus merosot ke level terendah, memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan ekonomi dan sosial. Fenomena “ogah punya anak” menjadi sorotan utama, menandakan masalah struktural yang perlu segera ditangani.
Di bawah ini, temukan beragam informasi menarik dan update terbaru seputar wisata serta berita eksklusif dari CRAZY CHINA.
Angka Kelahiran Anjlok ke Rekor Terendah
Biro Statistik China melaporkan bahwa angka kelahiran di negara tersebut telah mencapai rekor terendah sepanjang tahun 2025. Data menunjukkan penurunan signifikan dari 6,4 per 1.000 orang pada tahun 2023, menjadi hanya 5,6 per 1.000 orang di tahun 2025. Angka ini merupakan yang terendah sejak era 1950-an, sebuah indikasi krisis yang serius.
Penurunan drastis ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan dari perubahan sosial dan ekonomi yang fundamental. Situasi ini menunjukkan kegagalan berbagai stimulus pemerintah untuk mendorong warganya memiliki anak.
Akibatnya, jumlah penduduk China mengalami pengurangan signifikan. Total populasi menyusut hingga 3,4 juta jiwa pada tahun 2025, menjadi 1,405 miliar orang.
Populasi Lansia Meningkat Drastis
Bersamaan dengan anjloknya angka kelahiran, China juga menghadapi masalah lain: peningkatan tajam jumlah penduduk lanjut usia. Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas meningkat dari 22% pada tahun 2024 menjadi 23% pada tahun 2025. Tren ini menciptakan tekanan ganda terhadap struktur demografi negara.
Peningkatan populasi lansia yang cepat ini menandakan beban yang semakin besar pada generasi muda yang jumlahnya terus berkurang. Rasio ketergantungan (dependency ratio) akan semakin tidak seimbang, dengan sedikitnya angkatan kerja yang harus menopang banyak pensiunan.
Fenomena ini berpotensi menambah tekanan pada sistem pensiun yang sudah ada. Jika tidak ada regenerasi yang memadai, sistem jaminan sosial dapat terancam kolaps, memaksa peningkatan iuran yang memberatkan pekerja muda.
Baca Juga: Kebijakan Tarif AS Ke Iran Picu Kemarahan India‑China
Dampak Ekonomi Jangka Panjang
Kepala Ekonom di Economist Intelligence Unit, Yue Su, memperingatkan bahwa penurunan angka kelahiran yang berkelanjutan akan menimbulkan risiko ekonomi yang besar. Angkatan kerja yang menyusut berarti berkurangnya produktivitas dan inovasi di masa depan, yang sangat krusial bagi pertumbuhan ekonomi China.
Basis konsumen yang lebih kecil juga merupakan ancaman serius. Su menjelaskan bahwa “penurunan jumlah penduduk berarti basis konsumen yang lebih kecil di masa depan, sehingga meningkatkan risiko ketidakseimbangan penawaran dan permintaan yang lebih luas.” Hal ini dapat memperlambat laju ekonomi secara keseluruhan.
Untuk mengatasi dampak ini, China perlu mencari solusi inovatif yang tidak hanya berfokus pada insentif kelahiran. Investasi pada otomatisasi, peningkatan produktivitas angkatan kerja yang ada, dan kebijakan imigrasi yang strategis mungkin diperlukan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Kegagalan Insentif Dan Tekanan Sosial Ekonomi
Pemerintah China telah berupaya keras mengatasi masalah ini dengan meluncurkan berbagai insentif, seperti hadiah uang tunai dan pengurangan pajak bagi keluarga dengan anak di bawah usia 3 tahun. Cuti melahirkan bagi pekerja perempuan juga diperpanjang dari 98 menjadi 158 hari. Namun, insentif ini belum memberikan dampak signifikan.
Yue Su berpendapat bahwa tekanan ekonomi yang meningkat dan persaingan kerja yang ketat menjadi penyebab utama mengapa kaum muda menunda pernikahan dan memiliki anak. Mereka cenderung memprioritaskan stabilitas keuangan dan karier di tengah ketidakpastian.
Jumlah kelahiran pada tahun 2025 yang hanya sekitar 7,9 juta jiwa, jauh lebih rendah dibandingkan 9,5 juta jiwa pada tahun sebelumnya, menegaskan kegagalan kebijakan ini. “Laju penurunan ini sangat mencolok, terutama tanpa adanya guncangan besar,” tambah Su, menyoroti urgensi situasi.
Ikuti terus berbagai informasi menarik seputar berita terkini, wisata, dan teknologi China, eksklusif hanya di CRAZY CHINA.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari finance.detik.com
- Gambar Kedua dari netralnews.com