Xi Jinping Tegaskan Kekuasaan, 30 Jenderal Dan Laksamana China Disingkirkan
Xi Jinping singkirkan 30 jenderal dan laksamana China dalam 3 tahun, memperkuat kontrol dan dominasi di militer negara.
Dalam tiga tahun terakhir, Xi Jinping mencopot 30 jenderal dan laksamana di militer China. Langkah ini menunjukkan upaya tegasnya memperkuat kontrol dan dominasi atas angkatan bersenjata.
Apa dampak tindakan ini bagi struktur militer dan politik China? Simak ulasan lengkapnya di CRAZY CHINA.
Xi Jinping Lakukan Perombakan Besar Di Militer China
Selama tiga tahun terakhir, Presiden China Xi Jinping melakukan perombakan besar-besaran di Angkatan Bersenjata China. Sekitar 30 jenderal dan laksamana dicopot dari jabatannya, termasuk pejabat senior yang mengawasi operasi militer strategis.
Perombakan ini menandai upaya Xi memperkuat kontrol pribadi atas militer, mengurangi potensi loyalitas berlebih kepada perwira senior yang memiliki pengaruh luas. Beberapa pakar menilai tindakan ini juga untuk menguji kesetiaan aparat terhadap kepemimpinan Xi.
Komisi Militer Pusat (CMC) yang dibentuk Xi pada 2023 kini hanya memiliki sedikit jenderal aktif. Banyak posisi senior kini kosong, menimbulkan kekosongan kepemimpinan di salah satu militer terkuat kedua di dunia.
Jenderal Terkemuka Ditinggalkan, Tuduhan Korupsi Muncul
Di antara yang dicopot adalah Jenderal Zhang Youxia, yang bertanggung jawab atas persiapan perang, dan Jenderal Liu Zhenli. Keduanya menghadapi tuduhan pelanggaran disiplin dan korupsi, meski beberapa pakar menilai pembersihan ini juga terkait dengan konsolidasi kekuasaan Xi.
Zhang Youxia, yang sebelumnya Wakil Ketua CMC, dituduh membocorkan informasi sensitif senjata nuklir kepada Amerika Serikat. Pencopotan Zhang pada 24 Januari menimbulkan pertanyaan tentang loyalitas dan keamanan internal militer China.
Sementara Liu Zhenli, Kepala Departemen Staf Gabungan, juga sedang diselidiki. Kedua perwira ini sebelumnya mengendalikan operasi strategis yang krusial, sehingga penggantiannya berdampak signifikan terhadap struktur komando PLA.
Baca Juga: RS Anzhen Beijing Jadi Percontohan Robot Medis Canggih, Tenaga Medis
Kekosongan Kepemimpinan Dan Konsolidasi Kekuasaan
Saat ini, CMC hanya memiliki satu jenderal aktif, Zhang Shengmin, yang ditunjuk sebagai wakil ketua. Ia dikenal menangani disiplin politik dan anti-korupsi di Angkatan Roket, yang mengendalikan program rudal nuklir dan konvensional China.
Kekosongan posisi senior menciptakan kekosongan kepemimpinan di pucuk militer. Para analis menilai langkah Xi mencerminkan kurangnya kepercayaan terhadap PLA saat ini dan kebutuhan untuk membangun kembali struktur komando yang sepenuhnya loyal.
Pembersihan ini menyasar hampir semua cabang angkatan bersenjata, termasuk Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Roket. Lima komando teater militer juga terpengaruh, termasuk Komando Teater Timur yang memantau kawasan Taiwan.
Dampak Politik Dan Pesan Xi Jinping
Langkah Xi Jinping mengirimkan pesan tegas: loyalitas kepada presiden menjadi kunci bagi kelangsungan karier militer. Bahkan sekutu dekat dan pejabat senior tidak aman dari pencopotan jika dianggap mengancam atau terlibat pelanggaran.
Kasus Zhang Youxia menimbulkan ketakutan di kalangan pejabat Beijing. Sebelumnya, Zhang memimpin departemen pengadaan senjata, area yang dikenal rawan korupsi, dan banyak pejabat di departemen ini telah ditindak.
Selain tujuan reformasi dan anti-korupsi, perombakan ini memperkuat dominasi Xi di militer menjelang Kongres Partai Komunis China 2027. Struktur kepemimpinan baru diharapkan lebih terpercaya dan mendukung kebijakan strategis Xi secara penuh.
Pertumbuhan Anggaran Dan Modernisasi Militer
China terus meningkatkan anggaran pertahanannya sebesar 7,2% pada 2026 menjadi 1,78 triliun yuan atau sekitar USD 249 miliar. Para pakar memperkirakan pengeluaran militer sebenarnya 40–50% lebih tinggi dari angka resmi karena sebagian biaya disembunyikan di pos lain.
Meskipun anggaran resmi China jauh lebih kecil dibanding Amerika Serikat, yang mencapai USD 950 miliar, langkah reformasi dan peningkatan loyalitas perwira menjadi prioritas strategis. Modernisasi dan penguatan struktur komando dianggap krusial bagi kemampuan operasional PLA.
Xi Jinping tampaknya fokus pada stabilitas internal dan kesiapan militer. Dengan penataan ulang perwira senior dan pengawasan ketat, China menegaskan kontrol penuh presiden atas militer dan memperkuat posisi negara dalam kancah geopolitik global.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari internasional.kontan.co.id
- Gambar Kedua dari international.sindonews.com