AS Ungkap Bukti Mengejutkan China Lakukan Uji Coba Nuklir Tersembunyi!

Amerika Serikat menuduh China melakukan uji coba nuklir rahasia yang meningkatkan ketegangan global di tengah berakhirnya perjanjian.

AS Ungkap Bukti China Lakukan Uji Coba Nuklir Tersembunyi!

Ketegangan geopolitik global semakin meningkat setelah Amerika Serikat menuduh China melakukan uji coba nuklir rahasia yang berpotensi mengancam stabilitas dunia dan memicu krisis nuklir baru. Tuduhan ini muncul di tengah momentum kritis yaitu berakhirnya Perjanjian START Baru (New START) sebuah pilar penting dalam kontrol senjata antara AS dan Rusia yang membatasi jumlah senjata strategis kedua negara selama puluhan tahun.

Di bawah ini, temukan beragam informasi menarik dan update terbaru seputar wisata serta berita eksklusif dari CRAZY CHINA.

tebak skor hadiah pulsa  

Tuduhan AS Terhadap Pengujian Nuklir Rahasia China

AS secara resmi menuduh China telah melakukan uji coba nuklir rahasia, termasuk satu ledakan nuklir dengan “yield” tertentu pada 22 Juni 2020, yang dilakukan secara bawah tanah dengan tujuan menghindari deteksi global. Tuduhan ini diutarakan oleh Thomas DiNanno selaku Under Secretary for Arms Control di konferensi pelucutan senjata di Jenewa, Swiss.

Menurut AS, China diduga menggunakan teknik yang disebut “decoupling” untuk melemahkan sinyal seismik sehingga deteksi internasional menjadi sulit. Teknik ini dinilai sebagai upaya menyembunyikan aktivitas yang seharusnya terpantau dalam sistem monitoring global.

Pejabat AS juga mengklaim bahwa aktivitas tersebut tidak hanya berkutat pada satu uji coba, tetapi termasuk persiapan untuk uji yang lebih besar serta perluasan fasilitas yang bisa digunakan untuk percobaan masa depan. Tuduhan ini dikeluarkan ketika dunia menyaksikan berakhirnya New START, membuat kekosongan aturan dalam kontrol senjata nuklir terbesar di planet ini.

Respons China Dan Penolakan Tuduhan

China membantah tuduhan AS, dengan pernyataan resmi yang menegaskan komitmennya untuk bertindak secara bertanggung jawab dalam isu nuklir. Juru bicara kementerian luar negeri China menyebut tuduhan tersebut sebagai narasi yang dibesar-besarkan dan tidak berdasar.

Beijing menegaskan bahwa pihaknya tidak melakukan uji coba nuklir eksplosif dan berpegang pada kebijakan moratorium pengujian nuklir seperti yang telah disepakati secara internasional selama beberapa dekade. China juga menolak ajakan untuk ikut serta dalam perjanjian kontrol senjata trilateral yang diusulkan AS bersama Rusia.

China berargumen bahwa langkah AS dalam mengangkat isu ini merupakan bagian dari strategi untuk memperluas kerangka kontrol senjata yang kini tidak lagi mencakup kekuatan nuklir baru seperti Beijing. Pernyataan ini semakin memanaskan perdebatan tentang perlunya tata kelola senjata nuklir yang lebih inklusif.

Baca Juga: Revolusi Logistik China, Van Otonomos Gantikan Kurir Manusia, Efisien Atau Ancam Pekerjaan?

Berakhirnya New START

Berakhirnya New START

Berakhirnya Perjanjian New START pada awal Februari 2026 merupakan titik balik dalam kontrol senjata internasional. Perjanjian ini sebelumnya menjadi satu-satunya mekanisme utama yang mengatur jumlah misil balistik antarbenua dan hulu ledak antara AS dan Rusia selama lebih dari dua dekade.

Tanpa perjanjian pengganti yang melibatkan China, negara-negara dengan kapabilitas nuklir bisa terdorong memperluas arsenal mereka tanpa batasan jelas. Pakar keamanan memperingatkan bahwa hal ini memperburuk ketidakpastian strategis global dan meningkatkan risiko salah perhitungan politik yang dapat memicu eskalasi militer.

AS sendiri menyerukan pembentukan suatu perjanjian kontrol senjata yang lebih luas, yang mencakup bukan hanya Rusia tetapi juga China, untuk membentuk suatu kerangka kerja yang relevan dengan realitas geopolitik saat ini. Namun, skeptisisme atas kemampuan diplomasi global untuk mencapai kesepakatan semacam itu tetap tinggi.

Dampak Potensial Bagi Stabilitas Global

Krisis nuklir bukanlah istilah tanpa konsekuensi nyata. Jika China terus melakukan aktivitas nuklir tanpa perjanjian kontrol yang kuat, negara-negara anggota nuklir lainnya akan merasa khawatir. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempercepat pembangunan senjata oleh negara-negara yang ingin memastikan keamanan nasionalnya.

Selain itu, tuduhan dan respons saling berlawanan antarnegara besar dapat mengguncang sistem kepercayaan dalam kolaborasi internasional untuk pengurangan senjata. Hal ini juga memengaruhi upaya nonproliferasi yang telah lama menjadi landasan dalam mencegah penyebaran senjata nuklir di negara-negara lain.

Para analis memperingatkan bahwa tanpa mekanisme kontrol yang efektif, dunia bisa kembali ke era ketegangan tinggi seperti masa Perang Dingin. Perubahan itu mengancam keamanan global dan menekan ekonomi serta politik negara-negara di dunia.

Ikuti terus berbagai informasi menarik seputar berita terkini, wisata, dan teknologi China, eksklusif hanya di CRAZY CHINA.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Pertama dari CNBC Indonesia
  2. Gambar Kedua dari CNBC Indonesia

Similar Posts