China 2026, Krisis Populasi Meningkat Kekurangan Perempuan Jadi Masalah
China menghadapi krisis demografis serius pada 2026, dengan penurunan angka kelahiran dan ketidakseimbangan gender yang makin parah.
Jumlah pria kini jauh melebihi perempuan, memicu kekhawatiran sosial, ekonomi, dan budaya. Fenomena ini berdampak pada tenaga kerja, pasar perumahan, serta dinamika keluarga, sekaligus menimbulkan “krisis kekurangan perempuan”.
Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya tentang berita seputaran CRAZY CHINA.
China Hadapi Penurunan Populasi di 2026
China, negara terpadat di dunia selama puluhan tahun, kini menghadapi tantangan demografis yang serius. Laporan statistik menunjukkan bahwa populasi China terus menyusut, dengan penurunan tercatat untuk tahun ketiga berturut‑turut. Pada 2024, jumlah penduduk turun sekitar 1,39 juta orang karena jumlah kematian melebihi angka kelahiran.
Faktor utama di balik penurunan ini adalah tingkat kelahiran yang sangat rendah meskipun pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mendorong keluarga memiliki lebih banyak anak, termasuk pelonggaran kebijakan kontrol kelahiran yang dulu sangat ketat.
Selain itu, angka pernikahan di China telah mengalami penurunan tajam, yang berarti lebih sedikit pasangan memilih menikah dan memiliki anak sebuah tren yang diperkirakan akan memperburuk penurunan populasi.
Kesenjangan Gender dan Dampak Kekurangan Perempuan
Salah satu konsekuensi dari dinamika demografis China yang berubah adalah ketidakseimbangan rasio jenis kelamin. Selama beberapa dekade, preferensi terhadap anak laki‑laki diperparah oleh kebijakan satu anak di masa lalu menyebabkan lebih banyak anak laki‑laki lahir dibanding perempuan.
Fenomena ini telah menciptakan generasi pria yang lebih banyak daripada wanita dalam usia menikah, yang sering disebut sebagai kelompok “surplus males”. Proyeksi demografis memperkirakan bahwa angka ini mencapai puluhan juta lebih pria daripada wanita dalam beberapa dekade mendatang.
United Nations Population Fund
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran berkembangnya krisis sosial dan “krisis seks”, di mana sejumlah besar pria dewasa sulit menemukan pasangan. Hal ini tidak hanya berdampak pada kehidupan keluarga dan sosial, tetapi juga memperberat masalah penurunan angka kelahiran karena profil demografis yang kurang seimbang.
Baca Juga: Terungkap! Industri Otomotif China 2025, Produksi Rekor Tapi Untung Cuma Receh, Ada Apa?
Dampak Sosial dan Ekonomi Dari Penyusutan Populasi
Penurunan populasi berdampak jauh melampaui statistik. Ekonomi China dipengaruhi oleh menurunnya tenaga kerja, karena jumlah pekerja muda menurun sementara jumlah lansia meningkat. Hal ini memberikan tekanan bagi sistem pensiun, layanan kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Sektor bisnis juga menghadapi tantangan karena basis konsumen yang menyusut dan permintaan domestik yang melemah. Ketika lebih sedikit orang menikah atau memiliki anak, pasar perumahan, pendidikan, dan konsumsi barang untuk keluarga menyusut pula.
Pemerintah sejak beberapa tahun terakhir mencoba berbagai kebijakan untuk membalik tren ini, termasuk insentif finansial untuk kelahiran, promosi nilai keluarga, dan perubahan regulasi terkait peraturan kelahiran. Namun, perubahan budaya sosial dan biaya hidup yang tinggi tetap menjadi hambatan utama bagi pasangan muda.
Prospek dan Rintangan Yang Menanti
Para demografer dan pembuat kebijakan China menyadari bahwa membalik tren penurunan populasi akan membutuhkan waktu lama. Dibutuhkan kombinasi kebijakan ekonomi, sosial, dan budaya untuk mendorong keluarga memiliki lebih banyak anak.
baiguan.news
Langkah‑langkah seperti subsidi anak, perbaikan pendidikan dan layanan kesehatan anak, serta dukungan pekerjaan bagi orang tua muda dapat membantu, tetapi perubahan sosial yang lebih besar diperlukan agar generasi muda merasa mampu dan ingin membentuk keluarga.
Selain itu, mengatasi ketidakseimbangan gender membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih komprehensif, termasuk edukasi sosial dan peraturan penegakan yang meniadakan bias gender sejak dini.
Simak dan ikuti terus informasi menarik lainnya tentang berita-berita terbaru China hanya di CRAZY CHINA.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari cnbcindonesia.com
- Gambar Kedua dari analisakini.id