Heboh! Kota Replika London Dan Paris di China Kini Sunyi Tak Berpenghuni!

Di Hangzhou, China, kota replika London dan Paris yang dulu megah kini sunyi, tak berpenghuni, menjadi simbol proyek gagal ambisius.

Kota Replika London Dan Paris di China Kini Sunyi Tak Berpenghuni!

Di pinggiran kota Hangzhou, China, masyarakat tak perlu ke Eropa untuk melihat Menara Eiffel atau nuansa London. Pemerintah membangun kota tiruan dengan replika arsitektur Eropa, seperti Menara Eiffel dan bilik telepon merah Inggris. Kini, kawasan megah itu justru menjadi kota hantu, sepi dan tak berpenghuni, simbol ambisi bangunan yang gagal menarik penghuni.

Di bawah ini, temukan beragam informasi menarik dan update terbaru seputar wisata serta berita eksklusif dari CRAZY CHINA.

nonton gratis piala dunia 2026 STADIONLIVE
LIVE STREAMING WORLD CUP 2026

Kota Tiruan Paris, Tianducheng Yang Sepi

Tianducheng di dekat Hangzhou dibangun sebagai replika mini kota Paris, lengkap dengan Menara Eiffel, taman, dan jalan lebar bergaya Eropa. Proyek ini dimulai sekitar 2007 dengan tujuan menarik penduduk dan wisatawan. Konsepnya dijual sebagai kota modern bergaya kota Eropa.

Namun kenyataannya, banyak rumah dan apartemen tetap kosong, jalan sepi, dan fasilitas umum kurang berfungsi. Hanya sebagian kecil warga yang tinggal di sana, kebanyakan tertarik karena harga yang murah, bukan tema Eropa. Kawasan yang direncanakan menampung puluhan ribu penduduk malah tampak seperti ditinggalkan.

Setelah lebih dari satu dekade, Tianducheng dikenal sebagai “kota mati” atau kota hantu. Gedung megah berdiri rapi, tetapi tanpa aktivitas warga yang riuh. Rencana hidup dan ramai tidak terwujud, sehingga kota tiruan Paris ini justru menjadi simbol ambisi yang meleset.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Replika London di Pinggiran Shanghai

Di dekat Shanghai berdiri Thames Town, kota tiruan bergaya London dengan arsitektur Tudor, bilik telepon merah, dan jalan setapak ala Inggris. Proyek ini mengandalkan citra kota Eropa untuk menarik pembeli dan investasi mewah. Desainnya dirancang amat mirip dengan kota aslinya, hingga jembatan dan patung juga ditiru.

Padahal, kenyataannya berbeda. Sebagian besar bangunan tidak berpenghuni, ruang publik sepi, dan kafe jarang ramai. Proses pembangunan besar tidak diikuti oleh aliran penduduk yang setara. Kini, kawasan ini lebih sering jadi lokasi foto daripada kota hidup.

Perbedaan besar dengan London asli adalah manusianya. Di London, trotoar dan kafe ramai, sedangkan di kota replikanya sepi dan mati. Kondisi ini memperkuat citra Thames Town sebagai kota hantu, meski tampak mewah dari luar.

Baca Juga: Pasar China Bergejolak! Skoda Dikabarkan Angkat Kaki, Ada Apa Dengan Volkswagen?

Tren Replika Kota Berar Sitektur Eropa

 Tren Replika Kota Berar Sitektur Eropa

Di berbagai kota China, tren “duplitecture” atau tiruan kota Eropa sempat sangat populer. Selain Paris mini, ada juga jembatan dan jalan ala London, serta kawasan bergaya kota Amerika Serikat. Pengembang lokal menjadikan gaya arsitektur Eropa sebagai simbol kemewahan dan kenyamanan.

Proyek ini diharapkan mampu menarik pembeli lokal dan investor asing. Namun, hasilnya sering tidak seimbang. Banyak kawasan baru berdiri megah tetapi sepi penghuni, memunculkan citra kota hantu dengan latar bangunan tiruan. Kini, pemerintah China mulai menilai proyek serupa boros dan tidak sesuai kebutuhan nyata.

Beberapa kawasan juga dianggap “bertentangan dengan nilai‑nilai sosial”. Sikap ini menggambarkan pergeseran kebijakan, dari ekspansi bangunan ikonik ke penataan pembangunan yang lebih efisien dan realistis. Masa depan kota‑kota tiruan akan dinilai dari kemanfaatan, bukan hanya tampilannya.

Pesan Moral Dari Kota‑Kota Hantu di China

Kota replika London dan Paris di China menjadi simbol ambisi bangunan yang tidak diikuti oleh kenyataan sosial. Mereka dibangun sebagai kota impian, tetapi gagal menarik penduduk yang sesungguhnya. Akibatnya, kawasan ini berubah menjadi kota hantu, penuh bangunan indah, tetapi kosong.

Bagi pengembang, kota hantu adalah contoh kegagalan investasi skala besar. Mereka membangun lingkungan spektakuler, tetapi tidak menghasilkan kehidupan sosial nyata. Di tengah krisis properti, bangunan kosong ini semakin menyoroti pemborosan sumber daya.

Bagi masyarakat, kota‑kota tiruan ini mengajarkan bahwa nilai sebuah kota bukan hanya arsitekturnya, tetapi jiwa warganya. London dan Paris asli berdenyut karena kehidupan, bukan hanya pemandangan. Di tengah modernisasi, kota hantu di China menjadi pengingat pentingnya membangun lingkungan yang hidup, bukan hanya indah di mata.

Ikuti terus berbagai informasi menarik seputar berita terkini, wisata, dan teknologi China, eksklusif hanya di CRAZY CHINA.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari cnnindonesia.com
  • Gambar Kedua dari travel.kompas.com

Similar Posts