Terkuak! Mayoritas Baterai EV Bekas China Dikuasai Bengkel Ilegal, Ini Bahayanya!
Laporan terbaru mengungkap mayoritas baterai EV bekas di China dikuasai bengkel ilegal, menimbulkan risiko serius bagi lingkungan dan keselamatan.
Pasar daur ulang baterai EV di China menghadapi masalah serius. Mayoritas baterai bekas didaur ulang oleh bengkel ilegal, membentuk ‘pasar abu-abu’ yang menimbulkan kekhawatiran lingkungan, keselamatan, dan keberlanjutan industri resmi. Laporan terbaru menyoroti praktik berbahaya serta keuntungan besar yang mendorong operasi ilegal ini.
Di bawah ini, temukan beragam informasi menarik dan update terbaru seputar wisata serta berita eksklusif dari CRAZY CHINA.
Dominasi Pasar “Abu-Abu” Baterai EV Bekas
Laporan dari Carnewschina pada Jumat, 30 Januari 2026, mengungkap fakta mengejutkan mengenai daur ulang baterai EV di China. Sekitar 75 persen baterai kendaraan listrik yang sudah tidak terpakai ditangani oleh bengkel-bengkel tanpa izin. Angka ini menunjukkan dominasi signifikan sektor tak teregulasi dalam pasar daur ulang baterai bekas.
Operasi ilegal ini sangat menguntungkan, dengan estimasi keuntungan mencapai 10.000 yuan (sekitar Rp24 juta) per kendaraan. Namun, keuntungan besar ini datang dengan risiko serius. Praktik daur ulang yang tidak standar membahayakan lingkungan dan keselamatan, sekaligus merusak industri daur ulang resmi yang beroperasi sesuai regulasi.
Saat China bersiap menghadapi gelombang besar baterai EV yang akan habis masa pakainya, dominasi pasar abu-abu ini menjadi tantangan besar. Ini menghambat upaya menuju pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Regulasi yang lebih ketat dan penegakan hukum yang efektif sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.
Modus Operandi Bengkel Ilegal Dan Keuntungannya
Investigasi media China Yicai menemukan salah satu bengkel rahasia yang beroperasi di dekat Kawasan Industri Qingcaowo, Huizhou, Guangdong. Bengkel ini beroperasi tanpa nama perusahaan dan dengan pengawasan gerbang yang ketat. Di lokasi tersebut, terlihat lebih dari 100 paket baterai yang sudah dibongkar berserakan di lantai, menunjukkan skala operasi mereka.
Wu Lei (nama samaran), manajer bengkel, menjelaskan bisnis menguntungkan mereka. Bengkel membeli paket baterai EV bekas dari seluruh China, membongkar menjadi sel individual, dan menyortir kualitasnya. Sel berkualitas tinggi (kapasitas >50%) dirombak dan dijual kembali ke produsen kendaraan roda dua, roda tiga, power bank, dan sistem penyimpanan energi.
Operasi ilegal ini sangat menguntungkan. Bengkel kecil membeli baterai 0,5–0,6 yuan per Ah dan menjual sel ‘rekondisi’ 1 yuan per Ah. Untuk sel 100 Ah, untung 50 yuan, dan sebuah EV dengan 200 sel bisa menghasilkan sekitar 10.000 yuan. Margin tinggi memungkinkan mereka menawar 30 persen lebih mahal dibanding perusahaan resmi, menguasai pasokan baterai bekas.
Baca Juga: Geger! Investor China Kehilangan Rp170 T Karena Demam Emas
Ancaman Lingkungan Dan Keselamatan
Ketiadaan prosedur yang benar di bengkel-bengkel ilegal ini menimbulkan risiko serius terhadap lingkungan dan keselamatan. Para pekerja seringkali beroperasi tanpa alat pelindung diri, dan bahan berbahaya ditangani secara sembarangan, meningkatkan potensi kecelakaan dan kontaminasi.
Bengkel-bengkel kecil tidak memiliki teknologi canggih untuk memulihkan logam berharga. Perusahaan resmi seperti CATL mampu memulihkan litium lebih dari 90 persen, serta nikel, kobalt, dan mangan lebih dari 98 persen, sementara bengkel hanya melakukan pembongkaran dasar dan menghasilkan ‘bubuk hitam’ yang masih harus diproses lebih lanjut.
Proses yang tidak efisien dan tidak aman menyebabkan pemborosan sumber daya serta pencemaran lingkungan. Operasi ini biasanya tanpa keterlacakan, sehingga asal-usul baterai daur ulang tidak jelas. Wu Lei bahkan mengakui pernah mengganti sel dengan kapasitas berbeda, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kualitas dan keselamatan produk ‘rekondisi’.
Respons Regulator Dan Masa Depan Daur Ulang
China sedang memasuki fase pensiun baterai EV dalam skala besar, dengan perkiraan 820.000 ton pada tahun 2025 dan lebih dari 1 juta ton pada tahun 2030. Menanggapi masalah ini, regulasi baru berjudul “Interim Measures for the Management of Recycling and Comprehensive Utilization of Waste Power Batteries for New Energy Vehicles” akan berlaku pada April mendatang.
Aturan baru ini bertujuan untuk memperkuat keterlacakan informasi, pengelolaan daur ulang, dan pemanfaatan menyeluruh, serta mendorong sinergi industri “produksi–daur ulang–regenerasi”. Namun, banyak pemilik bengkel kecil tetap yakin dapat mengamankan pasokan baterai, didorong oleh dinamika pasar “penawar tertinggi yang menang”, yang menantang implementasi regulasi ini.
Kementerian Ekologi dan Lingkungan China melakukan lebih dari 8.300 inspeksi terhadap unit pembongkaran dan pemrosesan baterai bekas. Mereka menekankan pentingnya daur ulang baterai untuk keselamatan, keamanan aset, dan perlindungan lingkungan. Konsumen diimbau mendukung regulasi baru serta menghindari penyerahan baterai ke jalur yang tidak teregulasi.
Ikuti terus berbagai informasi menarik seputar berita terkini, wisata, dan teknologi China, eksklusif hanya di CRAZY CHINA.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari otomotif.antaranews.com
- Gambar Kedua dari moladin.com